Disclaimer dulu. Banyak hal yang gue tulis di artikel artikel sebelumnya, termasuk Catatan Lima Tahun di Lapangan, sekarang udah nggak relevan lagi. Posisi gue, tim gue, dan fokus gue udah berubah. Anggap tulisan lama itu arsip perjalanan. Tulisan ini versi gue yang paling baru: sekarang energi gue sepenuhnya buat Piranusa dan YOTEXT.

Gue mau mulai tulisan ini dengan satu kata yang jarang gue pakai di blog ini: bersyukur.

Bukan bersyukur yang basa basi, yang diucapin cuma biar kedengeran dewasa. Ini bersyukur yang datang setelah lo keluar dari sesuatu yang berat, terus pelan pelan sadar ternyata selama ini lo nahan napas terlalu lama. Lo baru ngerasa betapa sesaknya sebuah ruangan justru setelah lo keluar dan ngerasain udara yang beda.

Tulisan ini panjang, dan sengaja gue tulis jujur. Sebagian buat gue sendiri, biar nanti gue bisa baca ulang dan inget rasanya. Sebagian lagi buat lo yang mungkin lagi ada di titik yang sama kayak gue beberapa waktu lalu.

Keluar dari Tempat yang Kelihatan Sehat

Gedung megah yang retak di balik fasadnya

Ada tempat kerja yang dari luar kelihatan sehat banget. Proyeknya keren, namanya terdengar besar, ceritanya enak buat dipamerin di LinkedIn. Orang lihat dari luar dan mikir, wah enak banget kerja di sana. Dan jujur, awalnya gue juga mikir gitu.

Gue nggak akan sebut namanya. Tujuan tulisan ini bukan buat nyari musuh atau buka aib siapa pun. Yang mau gue bagi cuma satu hal: kesehatan sebuah tempat kerja nggak kelihatan dari presentasinya, tapi dari cara orang di dalamnya diperlakukan waktu nggak ada yang nonton.

Di dalam, banyak hal yang nggak sejalan sama nilai yang gue pegang. Hal hal yang awalnya gue maklumi, lama lama jadi beban yang gue bawa pulang tiap malam. Gue sering bilang ke diri sendiri, "ya namanya juga kerja, semua tempat pasti ada nggak enaknya." Kalimat itu bener, tapi juga bisa jadi jebakan. Karena ada bedanya antara kerjaan yang menantang dan lingkungan yang pelan pelan ngegerus lo.

Di satu titik gue sadar, kalau gue terus bertahan cuma karena tempatnya kelihatan bagus dari luar, yang rusak duluan bukan kariernya, tapi gue sendiri. Semangat yang dulu gampang nyala jadi susah dinyalain. Ide yang biasanya ngalir jadi mampet. Dan yang paling bahaya, gue mulai nganggep semua itu normal.

Jadi gue keluar. Dan sampai hari ini, itu salah satu keputusan yang paling gue syukuri.

Tanda Tanda yang Sekarang Gue Kenali

Jalan kertas dengan rambu peringatan

Gue nggak mau tulisan ini cuma jadi curhat. Jadi gue rangkum beberapa tanda yang dulu gue abaikan, dan sekarang gue anggap serius. Ini bukan tuduhan ke tempat mana pun, ini daftar yang gue pakai buat diri gue sendiri:

  • Lo lebih sibuk ngejaga diri daripada ngerjain kerjaan. Kalau energi lo habis buat waspada, ngatur kata kata, dan nebak suasana hati orang, berarti ada yang salah.
  • Pencapaian lo nggak pernah cukup, tapi kesalahan lo selalu diingat. Lingkungan yang sehat ngasih ruang buat salah dan belajar.
  • Lo mulai malu cerita kerjaan lo ke orang terdekat. Bukan karena kerjaannya rahasia, tapi karena lo sendiri nggak yakin sama apa yang terjadi di sana.
  • Senin terasa kayak hukuman, bukan cuma hari yang males. Semua orang kadang males kerja. Tapi rasa takut yang terus berulang itu beda cerita.
  • Lo berhenti jadi diri lo sendiri. Ini yang paling susah disadari, dan biasanya orang lain yang lihat duluan.

Kalau beberapa poin di atas kerasa familiar, gue cuma mau bilang: lo nggak harus nunggu semuanya hancur dulu buat boleh pergi. Rasa nggak nyaman yang terus berulang itu udah cukup jadi data.

Masuk ke Piranusa

Ruang kerja yang hangat dan terang

Setelah itu gue gabung ke Piranusa sebagai AI Specialist. Piranusa adalah mitra teknologi untuk software CAD, BIM, dan 3D. Kerjaannya ngebantu bisnis di Indonesia, dari arsitektur, konstruksi, sampai manufaktur, dapetin dan pakai software desain yang tepat buat kebutuhan mereka.

Hal pertama yang gue rasain di sini sederhana: gue bisa kerja tanpa harus waspada terus. Kedengarannya sepele, tapi buat orang yang baru keluar dari lingkungan yang bikin capek, rasa aman itu mahal banget. Gue bisa nanya tanpa takut, bisa salah tanpa dipermalukan, dan bisa fokus ke kerjaan, bukan ke drama.

Ternyata waktu rasa aman itu ada, kerjaan jadi jauh lebih ringan. Bukan karena kerjaannya lebih gampang, tapi karena energi gue nggak lagi bocor ke hal hal yang nggak penting. Semua tenaga bisa gue pakai buat mikir, bikin, dan belajar.

Dan di sini gue sadar satu hal yang dulu gue remehin: budaya kerja itu bukan bonus, tapi fondasi. Skill lo bisa sehebat apa pun, tapi kalau tanahnya retak, lo nggak akan bisa bangun sesuatu yang tinggi di atasnya.

Dunia Baru: Komersial dan Marketing

Meja dengan grafik penjualan dan papan strategi

Selama bertahun tahun gue lebih sering ada di belakang layar. Nulis kode, ngerangkai model, ngurus pipeline. Gue jarang banget lihat langsung gimana sebuah produk sampai ke tangan pembeli. Dunia gue isinya bug, deploy, dan log.

Di Piranusa gue mulai ngeksplor dunia yang buat gue masih baru: komersial dan marketing. Gimana sebuah produk dijual, gimana tim ngobrol sama calon klien, kenapa satu pesan bisa bikin orang tertarik sementara pesan lain lewat gitu aja.

Hal pertama yang gue pelajari: klien nggak beli fitur, klien beli solusi buat masalah mereka. Engineer kayak gue gampang banget jatuh cinta sama detail teknis. Tapi buat orang yang lagi nyari software, pertanyaannya jauh lebih sederhana. Ini bikin kerjaan tim gue lebih cepat nggak? Ini bikin proyek gue lebih rapi nggak? Ini sepadan sama biayanya nggak?

Hal kedua: bahasa itu penting banget. Penjelasan yang menurut gue udah jelas, ternyata buat orang lain bisa kedengeran kayak bahasa planet lain. Belajar ngomong pakai bahasa klien, bukan bahasa engineer, itu skill yang ternyata sama susahnya kayak belajar framework baru.

Dan ini ngubah cara gue lihat AI. Dulu gue gampang kepincut sama demo yang keren. Sekarang pertanyaan pertama gue beda: ini bantu tim jualan lebih baik nggak? Ini bikin pelanggan lebih cepat dilayani nggak? Kalau jawabannya nggak, sekeren apa pun teknologinya, itu cuma pajangan.

Belajar sisi bisnis bikin gue jadi engineer yang lebih membumi. Dan jujur, gue menikmati banget prosesnya.

Sipira dan Aplikasi Internal

Tampilan dasbor Sipira, CRM internal Piranusa

Salah satu hal yang paling gue syukuri di sini adalah kesempatan buat ikut kontribusi di pengembangan aplikasi internal, terutama Sipira, CRM yang dipakai tim Piranusa.

Buat yang belum familiar, CRM itu sistem buat ngelola hubungan sama pelanggan. Siapa aja calon kliennya, udah sampai tahap mana obrolannya, kapan harus follow up, apa yang mereka butuhin. Kelihatannya administratif, tapi justru di situ banyak bisnis bocor. Calon klien yang lupa dihubungi lagi, data yang tersebar di chat dan spreadsheet, tim yang nggak tahu kolega lain udah ngobrol sama siapa.

Yang bikin ngerjain Sipira beda dari project project gue sebelumnya: penggunanya ada di sekitar gue. Mereka bukan angka di dashboard analytics, tapi rekan kerja yang tiap hari buka aplikasinya buat kerja beneran. Jadi feedback nya datang cepat dan jujur. Kalau ribet, orang langsung bilang. Kalau berguna, orang langsung pakai. Kalau ada satu langkah yang bikin mereka harus klik lima kali buat hal yang harusnya satu kali, itu langsung kerasa.

Dari Sipira gue belajar banyak hal yang nggak bisa didapet dari tutorial:

  • Alur kerja dulu, layar belakangan. Sebelum mikirin tampilan, pahami dulu gimana tim sebenarnya kerja hari ini, termasuk kebiasaan kecil mereka.
  • Data yang rapi itu hasil dari aplikasi yang enak dipakai. Kalau input data terasa nyusahin, orang bakal nyari jalan pintas, dan datanya jadi berantakan.
  • Fitur kecil yang tepat lebih berharga dari fitur besar yang jarang dipakai.

Satu kalimat yang sekarang nempel di kepala gue: software yang baik bukan yang fiturnya paling banyak, tapi yang bikin kerjaan orang terasa lebih ringan.

Apa yang Gue Pelajari Sejauh Ini

Buku catatan dengan bola lampu kertas

Kalau gue harus ngerangkum babak ini dalam beberapa poin, kira kira begini:

  1. Lingkungan yang sehat bikin lo berkembang lebih cepat. Bukan karena lo jadi lebih pintar dalam semalam, tapi karena lo berhenti buang energi buat bertahan.
  2. Teknologi paling berguna waktu dia nyentuh kerjaan sehari hari. AI yang ngebantu satu tim kerja lebih rapi jauh lebih berharga daripada AI yang cuma bagus buat presentasi.
  3. Ngerti bisnis bikin lo jadi engineer yang lebih baik. Waktu lo tahu kenapa sesuatu dibangun, lo bisa bangun dengan cara yang lebih tepat.
  4. Bersyukur itu bukan berarti puas dan berhenti. Justru rasa syukur bikin gue pengen ngasih yang terbaik, karena gue tahu rasanya nggak punya tempat kayak gini.

Fokus Gue Sekarang: Piranusa dan YOTEXT

Dua jalur kertas berdampingan menuju cakrawala

Sekarang fokus gue jelas, cuma dua.

Piranusa, tempat gue belajar dan berkontribusi tiap hari, ngebawa AI dan sistem yang rapi ke kerjaan tim.

YOTEXT, produk yang gue dirikan sendiri. YOTEXT ngubah meeting jadi transkrip, ringkasan, keputusan, dan tugas, supaya hasil obrolan nggak hilang begitu meeting selesai.

Biar nggak ada salah paham, YOTEXT bukan project yang lahir dari kerjaan kantor. YOTEXT adalah kelanjutan dari dua project pribadi gue sebelumnya, ALTO dan YOTA. ALTO dulu platform transkripsi rapat yang ngolah rekaman panjang jadi transkrip berlabel pembicara. YOTA ngubah rekaman rapat jadi ringkasan, poin diskusi, dan action item. Dua project itu gue gabungin, gue rapihin, dan gue terusin jadi YOTEXT. Jadi ide, kode, dan arahnya berasal dari project pribadi gue sendiri, bukan diambil dari mana mana.

Untuk kebutuhan Piranusa, gue bikin aplikasi lain yang namanya Rekapin. Itu project terpisah, dibangun khusus buat Piranusa, dan nggak ada hubungannya sama kode YOTEXT.

Yang seru, dua dunia ini tetap saling ngasih pelajaran. Yang kebawa dari satu ke yang lain itu cara berpikir dan pengalaman, bukan kode atau data. Apa yang gue pelajari soal kebutuhan tim dan cara klien mikir bikin gue lebih tajam waktu nentuin arah YOTEXT. Dan pengalaman ngurus produk sendiri bikin gue lebih peka waktu ikut ngebangun alat internal.

Dua duanya punya benang merah yang sama: bikin kerjaan orang lebih ringan, bukan lebih ribet.

Buat Lo yang Lagi Bertahan di Tempat yang Salah

Perahu kertas menuju pelabuhan yang tenang

Gue tahu nggak semua orang bisa langsung resign. Ada cicilan, ada keluarga, ada banyak pertimbangan yang nggak bisa dianggap enteng. Gue nggak akan sok bilang "udah keluar aja." Tapi ada beberapa hal yang bisa lo mulai dari sekarang:

  • Akui dulu kalau ada yang salah. Berhenti nyalahin diri sendiri buat sesuatu yang bukan salah lo.
  • Jaga jejak kerja lo. Catat apa yang lo kerjain dan apa hasilnya. Itu bakal jadi bekal waktu lo siap pindah.
  • Bangun jaringan di luar kantor. Kesempatan sering datang dari orang yang tahu kerjaan lo, bukan dari lowongan.
  • Kasih batas waktu buat diri sendiri. Bertahan sambil nyiapin jalan keluar itu beda jauh sama bertahan tanpa rencana.

Tempat yang tepat itu ada. Kadang lo cuma perlu berani keluar dari yang salah dulu buat bisa nemuin.

Mau Leveling Up Bisnis Lo?

Satu hal lagi. Selain dua fokus itu, gue juga masih nerima project buat bantu bisnis lain naik level. Kalau lo lagi mikirin salah satu dari ini:

  • Website perusahaan atau landing page produk yang jelas dan enak dibuka di HP
  • Domain dan hosting yang beres dari awal
  • Aplikasi internal atau CRM sederhana biar tim lo nggak kerja dari chat dan spreadsheet yang berserakan
  • Fitur AI yang beneran kepake, bukan cuma buat gaya

Ngobrol aja dulu, santai. Kirim email ke yoelandreasmanoppo@gmail.com, atau klik tombol chat di pojok kanan bawah dan gue bantu susun pesannya.

Terima kasih udah baca sampai sini. Semoga lo juga nemu tempat yang bikin lo bisa napas lega.